rumahinspirasikeluarga.or.id-Di era digital saat ini, dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar, majelis taklim, atau pertemuan langsung antara guru dan murid. Ia telah berpindah ke ruang yang lebih luas, cepat, dan tanpa batas. Melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, hingga WhatsApp pesan-pesan keagamaan disampaikan. Kutipan ayat, hadis, potongan ceramah, hingga kata-kata motivasi islami beredar dengan sangat cepat, dikonsumsi dan dibagikan oleh jutaan pengguna. Namun di balik kemudahan ini, muncul fenomena yang semakin nyata tetapi jarang disadari, yaitu ilusi bahwa seseorang “sudah berdakwah” padahal belum benar-benar berdakwah.
Banyak orang merasa telah menjalankan tugas dakwah hanya dengan membagikan konten religius di media sosial. Secara kasat mata, aktivitas ini memang terlihat sebagai bentuk kontribusi keagamaan. Namun, secara substansi, dakwah bukan sekadar aktivitas menyebarkan pesan, melainkan proses menghadirkan nilai dalam kehidupan nyata. Ketika dakwah hanya berhenti pada tindakan “share” dan “upload”, maka yang terjadi bukan transformasi, melainkan konsumsi simbol-simbol religius yang belum tentu berdampak pada perubahan perilaku.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna dakwah di tengah budaya digital. Media sosial menciptakan ruang yang mendorong kecepatan, kesederhanaan dan validasi sosial melalui likes, views, dan komentar. Dalam situasi ini, dakwah cenderung dipahami sebagai aktivitas yang instan dan terlihat. Seseorang merasa telah berbuat baik karena telah menyebarkan nasihat, meskipun nilai dari nasihat tersebut belum tentu hidup dalam dirinya sendiri. Di sinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai ilusi kesalehan digital, di mana tampilan religius di ruang maya dianggap setara dengan praktik keberagamaan yang nyata.
Lebih jauh, dakwah yang tereduksi menjadi konten digital berisiko kehilangan kedalaman maknanya. Dalam tradisi keislaman, dakwah tidak hanya menuntut penyampaian lisan, tetapi juga keteladanan, konsistensi dan integritas moral. Seorang pendakwah tidak hanya menyampaikan kebaikan, tetapi juga menjadi representasi dari kebaikan itu sendiri. Namun, dalam praktik media sosial, jarak antara pesan dan pelaku sering kali melebar. Seseorang dapat dengan mudah membagikan konten tentang kejujuran, kesabaran, atau akhlak mulia, tetapi belum tentu nilai-nilai tersebut tercermin dalam interaksi sosialnya sehari-hari.
Selain itu, budaya digital juga menciptakan ukuran keberhasilan dakwah yang baru dan sering kali menyesatkan, yaitu popularitas konten. Semakin banyak sebuah postingan dibagikan atau disukai, semakin dianggap berhasil pula dakwah tersebut. Padahal, ukuran sejati dari dakwah bukanlah viralitas, melainkan perubahan. Dakwah yang berhasil bukan yang ramai di dunia maya, tetapi yang mampu mengubah perilaku, memperbaiki akhlak dan memperkuat hubungan sosial di dunia nyata.
Mimbar dan media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Keduanya tidak memiliki nilai baik atau buruk secara intrinsik. Namun, keduanya menjadi problematis ketika tidak disertai kesadaran mendalam dari pelakunya. Mimbar dapat berubah menjadi ruang retorika yang mengesankan tetapi hampa jika tidak diikuti keteladanan. Demikian pula media sosial dapat berubah menjadi ruang simbolik religius yang indah secara visual, tetapi kosong dari substansi perubahan jika hanya berhenti pada konten.
Pada akhirnya, fenomena “dakwah atau sekadar postingan” mengingatkan kita bahwa dakwah bukanlah aktivitas permukaan, melainkan proses yang melibatkan totalitas diri. Ia menuntut keselarasan antara apa yang disampaikan, apa yang diyakini dan apa yang dilakukan. Dakwah yang sejati tidak selalu tampak ramai di ruang digital, tetapi hadir dalam kesederhanaan perilaku sehari-hari yang jujur, adil dan penuh empati. Karena itu, yang perlu dipertanyakan bukan lagi seberapa sering kita membagikan pesan kebaikan, tetapi seberapa jauh pesan itu benar-benar hidup dalam diri kita dan memberi dampak bagi orang lain. Penulis adalah Peneliti Independen, Penggiat Sosial Budaya dan Pembina Genbiz. Saat ini juga aktif sebagai Kepala Departemen Excelent Center Jalanin Sumut. Website: https://yopirachmad.com, Hotline: 085270729834